Friday, 9 January 2026

Panduan Lengkap Menangani Cedera Wajah: Dari Pertolongan Pertama Hingga Tindakan Darurat di IGD



Trauma pada wajah sering kali menjadi pemandangan yang mendramatisir di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Bagi tenaga medis, tantangannya bukan hanya menghentikan perdarahan yang terlihat, tetapi juga mengamankan fungsi-fungsi vital yang tersembunyi di balik struktur wajah: pernapasan, penglihatan, dan kemampuan makan.
Artikel ini merangkum strategi manajemen komprehensif bagi dokter gawat darurat, mulai dari stabilisasi awal hingga penanganan definitif dan dampak psikososial jangka panjang.
1. Mengapa Wajah Begitu Krusial?
Wajah bukan sekadar estetika. Ia adalah gerbang utama oksigen dan nutrisi, serta pusat organ indra khusus.
 * Dampak Psikososial: Pasien trauma wajah berisiko tinggi mengalami gejala sisa (sequelae) jangka panjang seperti depresi, kecemasan, hingga PTSD. Penanganan yang buruk di IGD dapat berujung pada pengangguran atau isolasi sosial pasien akibat citra tubuh yang negatif.
 * Kolaborasi Multidisiplin: Penanganan ideal melibatkan empat pilar spesialisasi: Oftalmologi, Bedah Plastik, THT (Otolaringologi), serta Bedah Mulut dan Maksilofasial
2. Navigasi Anatomi: Peta Jalan bagi Klinisi
Wajah adalah ruang kompleks yang terbungkus tulang, otot, dan kulit yang sangat tipis.
Struktur Tulang dan Sinus
Kerangka wajah terdiri dari tulang frontal, nasal, zigomatikus, maksila, dan mandibula. Di dalamnya terdapat sinus-sinus berisi udara yang berfungsi melembapkan udara dan memberi nada unik pada suara manusia.
 * Penting: Sinus frontal baru terbentuk sempurna pada usia 6 tahun dan sinus maksila pada usia 10 tahun. Hal ini perlu dipertimbangkan saat menangani pasien pediatrik.
Sistem Persarafan yang Rentan
 * Saraf Trigeminal (CN V): Mengatur sensasi wajah melalui tiga divisi (V1, V2, V3). Mati rasa pada area pipi atau dahi merupakan tanda kuat adanya fraktur di jalur saraf tersebut.
 * Saraf Fasialis (CN VII): Mengatur otot ekspresi. Cedera di area kelenjar parotis sering kali mencederai saraf ini.
Vaskularisasi dan Kelenjar Khusus
Wajah sangat kaya akan pembuluh darah (anastomosis luas), yang berarti luka kecil sekalipun bisa menyebabkan perdarahan masif. Dokter juga harus waspada terhadap cedera saluran kelenjar:
 * Duktus Stensen (Parotis): Terletak sejajar garis dari telinga ke bibir atas.
 * Duktus Wharton (Submandibular): Terletak di dasar mulut.
3. Penilaian Awal: Deteksi "Bahaya Tersembunyi"
Mekanisme cedera memberikan petunjuk besar. Pasien dengan fraktur wajah tengah (midface) memiliki risiko 2,4 kali lebih besar mengalami cedera tulang belakang servikal (CSI).
Teknik Pemeriksaan Fisik Terarah
 * Palpasi Tulang: Cari adanya step-off (ketidakteraturan garis tulang) atau krepitus.
 * Fraktur Le Fort: Goyangkan maksila pasien. Jika hanya rahang atas yang bergerak, itu tipe I. Jika hidung ikut bergerak, itu tipe II. Jika seluruh wajah bergerak menjauhi dahi, itu tipe III (disjungsi kraniofasial).
 * Pemeriksaan Mata: Waspadai Enophthalmos (mata masuk ke dalam) atau Exophthalmos (mata menonjol akibat hematoma retrobulbar).
 * Tes Bilah Lidah (Tongue Blade Test): Jika pasien mampu mematahkan bilah lidah dengan gigitannya, risiko fraktur mandibula sangat rendah (NPV 95%).
 * Hematoma Septum: Cari massa ungu di dalam lubang hidung. Ini adalah kegawatdaruratan yang harus segera diinsisi untuk mencegah hidung pelana (saddle nose deformity).
4. Manajemen Jalan Napas: Dilema di Garis Depan
Jalan napas adalah prioritas absolut. Namun, trauma wajah sering membuat intubasi standar menjadi sangat sulit.
Strategi "Difficult Airway"
 * Hematoma yang Meluas: Hematoma di leher dapat menggeser anatomi trakea. Jika pasien masih bisa bicara dan transportasi singkat, pertimbangkan untuk menunda intervensi hingga tiba di fasilitas lengkap.
 * Teknik Penyedotan Ganda (Double Suctioning): Gunakan dua kateter penghisap untuk membersihkan darah yang menghalangi pandangan saat laringoskopi.
 * Penilaian LEMON: Selalu lakukan evaluasi kriteria LEMON (Look, Evaluate 3-3-2, Mallampati, Obstruction, Neck mobility) sebelum RSI (Rapid Sequence Intubation).
 * Opsi Bedah: Jika intubasi gagal, Krikotiroidotomi adalah prosedur pilihan.
5. Pengendalian Perdarahan dan Perawatan Luka
 * Hemostasis: Penekanan eksternal biasanya cukup. Untuk perdarahan intraoral masif pada pasien yang terimobilisasi servikal, intubasi mungkin diperlukan hanya untuk memungkinkan pemasangan kemasan kasa (packing) yang padat di orofaring.
 * Jangan Lakukan "Blind Clamping": Jangan menjepit pembuluh darah secara sembarangan di dalam luka wajah karena risiko mencederai saraf wajah atau duktus kelenjar sangat tinggi.
 * Asam Traneksamat: Dapat dipertimbangkan sebagai ajudan untuk mengontrol perdarahan trauma wajah.


6. Penanganan Spesifik di IGD
Trauma Mata
Jika dicurigai ruptur bola mata, pasang pelindung (eye shield) dan jangan berikan tekanan apapun pada mata. Hindari pemberian salep mata sebelum diperiksa spesialis.
Gigi yang Avulsi (Lepas)
 * Gigi yang lepas sepenuhnya harus disimpan dalam saline atau susu.
 * Risiko Aspirasi: Pasien yang tidak sadar atau dalam posisi berbaring tidak boleh membawa gigi yang lepas di dalam mulut. Masukkan ke dalam wadah steril.
Luka Gigitan dan Infeksi
 * Rabies: Karena wajah dekat dengan otak, profilaksis rabies harus dimulai segera (target <5 hari) jika ada indikasi gigitan hewan.
 * Timbal: Pada luka tembak, lakukan rontgen abdomen untuk memastikan tidak ada peluru yang tertelan yang bisa menyebabkan keracunan timbal kronis.
7. Disposisi dan Dokumentasi Medis
Tidak semua pasien trauma wajah harus dirawat inap. Pasien dengan cedera terisolasi, tanpa gangguan jalan napas, dan fungsi menelan yang baik dapat dipulangkan dengan instruksi kontrol yang ketat.
Pentingnya Dokumentasi Forensik
Cedera wajah sering kali menjadi bukti hukum (kasus penganiayaan atau KDRT). Dokter wajib mendokumentasikan temuan secara detail melalui deskripsi tertulis, diagram, dan foto medis untuk kepentingan litigasi di masa depan.
Kesimpulan untuk Praktisi
Manajemen cedera wajah di unit gawat darurat memerlukan keseimbangan antara kecepatan tindakan resusitasi dan ketelitian dalam menilai anatomi. Prioritas utama tetap pada ABC (Airway, Breathing, Circulation), namun jangan abaikan pemeriksaan sekunder yang mendetail untuk mencegah kecacatan permanen dan trauma psikologis pada pasien.
Kata Kunci (SEO): Cedera wajah, trauma maksilofasial, intubasi sulit, fraktur Le Fort, hematoma septum, pertolongan gawat darurat.


No comments:

Post a Comment